Mengapa Empati?

Komnas Perlindungan Anak menyatakan Indonesia berada dalam kondisi memprihatinkan dimana kasus pelecehan anak terus meningkat. Tragedi terbaru Renggo Khadafi (10) yang meninggal dunia setelah dipukuli oleh temannya di ruang kelas, merupakan ekses bagaimana anak sering menggunakan kekerasan untuk mengekspresikan amarah. Merasa marah itu normal, namun banyak yang tidak tahu bagaimana mengatasi perasaan ini.  

Dalam dua tahun terakhir, Kapolri mengklaim bahwa pasukan khusus polisi telah menangani 396 kasus aksi terorisme pada 2018 dan 275 kasus pada 2019, belum lagi lebih dari 1.000 WNI di kamp pengungsian di Suriah yang menunggu untuk dipulangkan. Kasus intoleransi terus meningkat dengan pelanggaran kebebasan beragama menempati urutan tertinggi. Laporan Setara Institute for Democracy and Peace menyebutkan ada 109 kasus diskriminasi, intoleransi, kekerasan, dan ujaran kebencian di 20 provinsi, naik dari 80 kasus pada paruh pertama 2017.   

Provinsi DKI Jakarta memiliki kasus terbanyak dengan 23 kasus, diikuti oleh Jawa Barat dan Jawa Timur dengan masing-masing 19 dan 15 kasus. Ini adalah indikasi kecil kasus di mana orang cenderung menggunakan kekerasan daripada pilihan lain yang tidak mengganggu.
Memperoleh kemampuan intelektual saja tidak cukup. Untuk menjadi produktif, bahagia, dan sukses dalam hidup, orang perlu mengembangkan kompetensi emosional mereka dan meningkatkan keterampilan empati mereka. Dengan kompetensi yang dimiliki masyarakat memiliki kecenderungan yang lebih rendah terhadap kekerasan dan mengurangi keinginan untuk terlibat atau mendukung tindak kekerasan terhadap orang lain.
EMPATIKU bekerja untuk menginovasi proses pembelajaran dan mentransformasikan sistem kelembagaan untuk menumbuhkan kompetensi emosional masyarakat dan menanamkan empati. Melalui kesenangan dan kreativitas untuk pembelajaran yang lebih melibatkan, peserta memperoleh empati dan keterampilan mengatasi emosi yang positif.

VISI & MISI

Komnas Perlindungan Anak menyatakan Indonesia berada dalam kondisi memprihatinkan dimana kasus pelecehan anak terus meningkat. Tragedi terbaru Renggo Khadafi (10) yang meninggal dunia setelah dipukuli oleh temannya di ruang kelas, merupakan ekses bagaimana anak sering menggunakan kekerasan untuk mengekspresikan amarah. Merasa marah itu normal, namun banyak yang tidak tahu bagaimana mengatasi perasaan ini.  Dalam dua tahun terakhir, Kapolri mengklaim bahwa pasukan khusus polisi telah menangani 396 kasus aksi terorisme pada 2018 dan 275 kasus pada 2019, belum lagi lebih dari 1.000 WNI di kamp-kamp pengungsi di Suriah yang menunggu untuk dipulangkan. Kasus intoleransi terus meningkat dengan pelanggaran kebebasan beragama menempati urutan tertinggi. Laporan Setara Institute for Democracy and Peace menyebutkan ada 109 kasus yang melibatkan diskriminasi, intoleransi, kekerasan dan ujaran kebencian di 20 provinsi, naik dari 80 kasus pada paruh pertama tahun 2017. Provinsi DKI Jakarta memiliki kasus terbanyak dengan 23 kasus, menyusul oleh Jawa Barat dan Jawa Timur dengan masing-masing 19 dan 15 kasus. 

Apa itu Kecerdasan Emosional? Apa Empati?

Kecerdasan emosional dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk memantau emosi diri sendiri dan emosi orang lain, untuk membedakan antara emosi yang berbeda dan memberi label yang tepat dan menggunakan informasi emosional untuk memandu pemikiran dan perilaku.

 

Kesadaran diri emosional

Kemampuan untuk mengetahui emosi, kekuatan, kelemahan, dorongan, nilai dan tujuan seseorang dan mengenali dampaknya pada orang lain sambil menggunakan firasat untuk memandu keputusan. Misalnya, seorang anak tidak hanya mampu mengidentifikasi perasaan "buruk" tetapi juga marah, terluka, cemburu, kesal, sedih, atau takut dalam berbagai situasi kehidupan.

Pengaturan diri emosional atau penanganan emosi dengan tepat

Melibatkan mengendalikan atau mengarahkan emosi dan impuls yang mengganggu seseorang dan beradaptasi dengan keadaan yang berubah, menunjukkan pilihan produktif untuk mengelola stres dan perasaan yang menjengkelkan daripada "bertindak-keluar" secara negatif seperti menggunakan kata-kata daripada tinju untuk mengekspresikan kemarahan.

Motivasi diri

Didorong untuk berprestasi demi pencapaian, pemikiran, perencanaan, dan penyelesaian masalah dengan menggunakan kontrol impuls, toleransi frustrasi, dan kepuasan tertunda untuk mencapai tujuan tertentu (misalnya: tidak ada TV sampai pekerjaan rumah selesai); dan mempertahankan harapan dan optimisme, mencoba lagi meskipun ada kemunduran (misalnya: nilai ujian yang buruk menyebabkan belajar lebih banyak, bukan kurang).

Empati

Mengenali dan memahami emosi orang lain dan mempertimbangkan perasaan orang lain terutama saat mengambil keputusan. Jika seorang anak dapat peduli tentang perasaan anak lainnya, menggoda atau berkelahi dengan korban yang tidak menaruh curiga dapat dikurangi secara drastis.

Keterampilan sosial

Menangani emosi dalam hubungan dan berinteraksi secara harmonis dengan orang lain, termasuk peka terhadap kebutuhan dan keinginan orang lain, mampu mendengarkan dan menenangkan perasaan orang lain, dan mengembangkan apa yang dianggap sebagai "keterampilan orang" yang baik.